Nama lokal:
Sumatera: Meligai (Bangka); Jawa: djukut anggereman, mainang, cacabean (Sunda); Sulawesi: kayu ragi (Manado); Filipina: pasau-na-hapai, sila-sila (Tagalog).
Deskripsi:
Herba setahun tinggi berkisar 5 cm sampai
3 m, seringkali menjadi berkayu di bagian dasarnya; pucuk muda dan perbungannya
berambut halus (puberulent) kecil; aerofor panjang muncul dari akar yang
terendam air.
Daun bentuknya lanset, ukuran 1–9 × 0.2–3
cm, runcing sempit pada bagian dasarnya, ujung atasnya meruncing; pertulangan
11–17 pasang; pertulangan tepi (submarginal) tidak terlihat jelas; tangkai daun
panjang 2.5–18 mm.
Kelopak berjumlah 4, lanset, ukuran 2–4 ×
0.7–1.2 mm, berambut kecil (puberulent) halus, bertulang menjari 3. Mahkota
berwarna kuning, orange-kuning buram, bentuk ellips, ukuran 2–3 × 1–2 mm.
Benang sari berjumlah 8, kuning-kehijauan pucat, benang sari yang menempel di
mahkota (epipetalous) lebih kecil; filamen dari benang sari yang menempel di
kelopak (episepalous) panjang 1–2 mm, yang menempel di mahkota (epipetalous)
panjang 0.5–1 mm; kepala sari lebarnya 0.4–0.6 mm, tinggi 0.2–0.3 mm,
menggugurkan serbuk sarinya langsung ke kepala putik saat anthesis. Butir
serbuk sari jatuh berupa tunggal. Disk ± terangkat, dengan nektar bersilia yang
rebah mengelilingi dasar dari masing-masing benang sari yang menempel di
mahkota (epipetalous). Tangkai putik berwarna kuning-kehijauan pucat, panjang
1–1.5 mm; kepala putik bulat-tertekan, diameter sekitar 0.6–1.2 mm, tinggi
0.5–0.8 mm, terbagi 4 tipis, bagian paling teratas reseptif.
Buah kapsul relatif berdinding tipis,
berambut kecil (puberulent) halus, ukuran 1.5–3 cm × 1–1.2 mm, agak silindris,
membesar pada 1/6 sampai 1/3 bagian teratas, bertangkai sangat pendek
(subsessile).
Biji bagian yang terbawah satu baris pada
masing-masing ruang kapsul, hampir vertikal, warna coklat, bentuk oblong,
panjang 0.7–0.85 mm, masing-masing tertanam pada endokarp berbentuk kubus yang
relatif kuat; alur sisi biji (raphe) berukuran 1/3 diameter tubuh biji. Biji
pada bagian teratas kapsul yang menggembung tersusun dalam banyak baris, bebas,
bentuk ovoid, panjang 0.35–0.5 mm, warna coklat lebih pucat dibandingkan biji
bagian terbawah dan dengan alur sisi biji (raphe) yang lebih sempit. Bagian
terbawah kapsul pada awalnya ditandai oleh benturan jelas berhubungan terhadap
posisi dari biji yang sebaris, tetapi ketika endokarp mengeras dan membengkak,
kapsul menjadi halus.
Distribusi dan Ekologi:
Tropika Afrika (Dakar sampai Danau Chad,
Sudan Selatan, dan Kongo Selatan), daratan Asia Tenggara (Sri Lanka sampai
Hainan), seluruh kawasan Malesia sampai Micronesia dan Australia Utara
(Semenanjung Cape York dan daratan Arnhem). Susah untuk menentukan asal negara
mana dari tumbuhan ini karena sekarang sudah tersebar luas menjadi gulma tropis
yang tidak mempunyai kerabat dekat. Tumbuhan ini mungkin telah terintroduksi di
wilayah tropika Afrika dimana relatif lokal dan terbatas di wilayah barat,
tetapi dikoleksi juga di Sao Tome pada awal 1822.
Ekologi: gulma yang sangat umum dijumpai
di sekitaran kolam, sepanjang aliran air, selokan sempit, tepi badan sungai, di
sawah dan kebun yang basah, pada lahan kosong, sawah yang dibiarkan, lahan
kosong tanah liat dan pasir putih yang berair (Borneo), pada kolam savana
Ekaliptus (Pulau Wetar), dan Gunung Kelud (Jawa Tengah) sebagai tumbuhan pionir
pada aliran lahar dingin, dari dataran rendah mencapai ketinggian 1000 m dpl.
Berbunga sepanjang tahun.
Manfaat:
Di Semenanjung Malaya, ekstrak akarnya diminum untuk obat sifilis, di Sulawesi (Indonesia), ekstrak akar tersebut digunakan sebagai obat tapel jerawat, bisul, dan infeksi lainnya. Di Indo-China, tumbuhan ini digunakan sebagai obat diare dan disentri, radang usus, dan seriawan (sprue).


