Sabtu, 12 Agustus 2023

Ludwigia hyssopifolia

Nama lokal:

Sumatera: Meligai (Bangka); Jawa: djukut anggereman, mainang, cacabean (Sunda); Sulawesi: kayu ragi (Manado); Filipina: pasau-na-hapai, sila-sila (Tagalog).

Deskripsi:

Herba setahun tinggi berkisar 5 cm sampai 3 m, seringkali menjadi berkayu di bagian dasarnya; pucuk muda dan perbungannya berambut halus (puberulent) kecil; aerofor panjang muncul dari akar yang terendam air.

Daun bentuknya lanset, ukuran 1–9 × 0.2–3 cm, runcing sempit pada bagian dasarnya, ujung atasnya meruncing; pertulangan 11–17 pasang; pertulangan tepi (submarginal) tidak terlihat jelas; tangkai daun panjang 2.5–18 mm.

Kelopak berjumlah 4, lanset, ukuran 2–4 × 0.7–1.2 mm, berambut kecil (puberulent) halus, bertulang menjari 3. Mahkota berwarna kuning, orange-kuning buram, bentuk ellips, ukuran 2–3 × 1–2 mm. Benang sari berjumlah 8, kuning-kehijauan pucat, benang sari yang menempel di mahkota (epipetalous) lebih kecil; filamen dari benang sari yang menempel di kelopak (episepalous) panjang 1–2 mm, yang menempel di mahkota (epipetalous) panjang 0.5–1 mm; kepala sari lebarnya 0.4–0.6 mm, tinggi 0.2–0.3 mm, menggugurkan serbuk sarinya langsung ke kepala putik saat anthesis. Butir serbuk sari jatuh berupa tunggal. Disk ± terangkat, dengan nektar bersilia yang rebah mengelilingi dasar dari masing-masing benang sari yang menempel di mahkota (epipetalous). Tangkai putik berwarna kuning-kehijauan pucat, panjang 1–1.5 mm; kepala putik bulat-tertekan, diameter sekitar 0.6–1.2 mm, tinggi 0.5–0.8 mm, terbagi 4 tipis, bagian paling teratas reseptif.

Buah kapsul relatif berdinding tipis, berambut kecil (puberulent) halus, ukuran 1.5–3 cm × 1–1.2 mm, agak silindris, membesar pada 1/6 sampai 1/3 bagian teratas, bertangkai sangat pendek (subsessile).

Biji bagian yang terbawah satu baris pada masing-masing ruang kapsul, hampir vertikal, warna coklat, bentuk oblong, panjang 0.7–0.85 mm, masing-masing tertanam pada endokarp berbentuk kubus yang relatif kuat; alur sisi biji (raphe) berukuran 1/3 diameter tubuh biji. Biji pada bagian teratas kapsul yang menggembung tersusun dalam banyak baris, bebas, bentuk ovoid, panjang 0.35–0.5 mm, warna coklat lebih pucat dibandingkan biji bagian terbawah dan dengan alur sisi biji (raphe) yang lebih sempit. Bagian terbawah kapsul pada awalnya ditandai oleh benturan jelas berhubungan terhadap posisi dari biji yang sebaris, tetapi ketika endokarp mengeras dan membengkak, kapsul menjadi halus.

Distribusi dan Ekologi:

Tropika Afrika (Dakar sampai Danau Chad, Sudan Selatan, dan Kongo Selatan), daratan Asia Tenggara (Sri Lanka sampai Hainan), seluruh kawasan Malesia sampai Micronesia dan Australia Utara (Semenanjung Cape York dan daratan Arnhem). Susah untuk menentukan asal negara mana dari tumbuhan ini karena sekarang sudah tersebar luas menjadi gulma tropis yang tidak mempunyai kerabat dekat. Tumbuhan ini mungkin telah terintroduksi di wilayah tropika Afrika dimana relatif lokal dan terbatas di wilayah barat, tetapi dikoleksi juga di Sao Tome pada awal 1822.

Ekologi: gulma yang sangat umum dijumpai di sekitaran kolam, sepanjang aliran air, selokan sempit, tepi badan sungai, di sawah dan kebun yang basah, pada lahan kosong, sawah yang dibiarkan, lahan kosong tanah liat dan pasir putih yang berair (Borneo), pada kolam savana Ekaliptus (Pulau Wetar), dan Gunung Kelud (Jawa Tengah) sebagai tumbuhan pionir pada aliran lahar dingin, dari dataran rendah mencapai ketinggian 1000 m dpl. Berbunga sepanjang tahun.

 Manfaat:

Di Semenanjung Malaya, ekstrak akarnya diminum untuk obat sifilis, di Sulawesi (Indonesia), ekstrak akar tersebut digunakan sebagai obat tapel jerawat, bisul, dan infeksi lainnya. Di Indo-China, tumbuhan ini digunakan sebagai obat diare dan disentri, radang usus, dan seriawan (sprue).

Acrostichum speciosum

 


Deskripsi:Ferna tanah, membentuk tandan yang kasar dengan ketinggian hingga 1,5 m. Sisik pada akar rimpang panjangnya hingga 8 mm.
Daun:Sangat mencolok, pada umumnya panjangnya kurang dari 1 m dan memiliki pinak daun fertil berwarna karat pada bagian ujungnya, tertutup secara seragam oleh sporangia besar. Pinak daun berukuran kira-kira 28 x 10 cm. Pinak daun yang steril memiliki ujung lebih kecil dan menyempit. Jenis ini berbeda dengan A.aureum dalam hal ukuran pinak daunnya yang lebih kecil dan ujungnya meruncing, permukaan bagian bawah pinak daun yang fertil berwarna coklat tua dan ditutupi oleh sporangia, serta daun mudanya berwarna hijau-kecoklatan. Peruratan daun berbentuk jaring. Sisik luas, panjang hingga 1 cm, hanya terdapat di bagian pangkal daun. Sisik menebal di bagian tengah. Spora besar dan berbentuk tetrahedral
Bunga:
Buah:
Ekologi:Ferna tahunan. Tumbuh pada areal mangrove yang lebih sering tergenang oleh pasang surut. Khususnya tumbuh pada gundukan lumpur yang �dibangun� oleh udang dan kepiting. Biasanya menyukai areal yang terlindung. Daun yang fertil dihasilkan pada bulan Agustus hingga April. �Kecambah� (sebenarnya �bibit spora�) berlimpah pada bulan Januari hingga April (di Jawa).
Penyebaran:Asia dan Australia tropis. Di seluruh Indonesia.
Kelimpahan:
Manfaat:Daun digunakan sebagai alas kandang ternak.
Catatan:

Melaleuca leucodendron

 NAMA BOTANIS

Galam merupakan genus Melaleuca dari famili Myrtaceae. Pada awalnya nama botanis galam (lahan rawa gambut atau pasang surut) adalah Melaleuca leucadendran Linn. samadengan nama galam kayu putih (Tim Teknisi Eksploitasi Hutan, 2000). Sacara morfologis adalah sama, tapi untuk kandungan minyaknya berbeda. Galam kayu putih lebih banyak mengandung “minyak kayu putih” dibanding galam lahan rawa. Sehingga penamaan botanis untuk galam lahan rawa (gambut atau pasang surut) adalah Melaleuca cajuputi.

Masyarakat di desa Antar Raya (Kab. Barito Kuala, Prop. Kalimantan Selatan) membedakan jenis galam ke dalam 2 varitas, yaitu galam tembaga dan galam putih. Galam tembaga memiliki kulit lebih tipis dan lebih licin dari kulit galam putih. Galam tembaga biasanya tumbuh di tepi-tepi sungai dan galam putih tumbuh agak lebih ke dalam.

SIFAT BOTANIS

Sifat fisik pohon galam tidak berbanir. Bentuk batang bulat panjang, agak lurus dan tinggi dapat mencapai 15 meter atau lebih. Tinggi bebas cabang dapat mencapai ±60%. Batang terbungkus dengan kulit oleh kulit-kulit tipis yang berlapis-lapis sehingga membentuk kulit yang tebal, berwarna kekuning-kuningan dan amat mudah lepas. Bila lapisan kulit tebal terserbut kering akan bersifat seperti gabus, sehingga tidak mudah menyerap air. Kayunya keras, berat jenis 0,85, kelas awet III dan kelas kuat II.

PERTUMBUHAN

Hutan galam merupakan hutan khas daerah hutan rawa gambut dengan kemasaman tanah yang cukup tinggi. Umumnya hutan galam merupakan hutan homogen. Namun ada pula yang tumbuh di hutan air tawar. Disamping pohon galam merupakan pohon toleran terhadap kondisi tanah asam dan tergenang.

Pertumbuhan galam yang berasal dari :

1) biji (generatif) umumnya relatif lurus dan mempunyai bentuk percabangan monopodial. Sehingga batangnya banyak digunakan untuk bahan/kayu bangunan.
2) trubusan mempunyai bentuk batang cenderung bengkok dengan bentuk percabangan sympodial. Sehingga pemanfaatan batang untuk kayu bakar. Kecuali bila diameter batang > 20 cm dengan panjang batang bebas cabang > 4 meter dijadikan kayu pertukangan.

Klasifikasi tingkat pertumbuhan jenis galam lahan rawa gambut (Melaleuca cajuputi Roxb) adalah :

1) Tingkat semai dengan diameter 2 cm – 10 cm

2) Tingkat tiang dengan diameter > 10 cm – 20 cm

3) Tingkat pohon dengan diameter > 20 cm

 MANFAAT

Pohon galam bermanfaat serba guna sejak dari buah, daun, kayu hingga kulitnya. Namun yang banyak dimanfaatkan selama ini adalah berupa kayu batang dan kayu bakar. Secara garis besar pemanfaatannya dirangkum menjadi pemanfaatan bersifat ekonomi dan ekologis.

Kayu galam dimanfaatkan antara lain :

1. kayu galam sangat berperan dalam pembangunan rumah dan gedung bertingkat yaitu sebagai pondasi cerucuk dan penyangga waktu pengecoran beton. Juga sebagai bahan baku penunjang.

2. Kulit kayu tidak banyak dimanfaatkan. Bila tak ada pembeli atau tidak digunakan sendiri biasanya hanya dibakar begitu saja. Kulit yang dibeli atau untuk keperluan sendiri digunakan sebagai “himbukan”; yaitu menutup lubang dengan kulit kayu galam dan setelah cukup padat, kemudian ditutup dengan tanah. Biasanya setelah 3 bulan akan terjadi penurunan dan selanjutnya akan diisi/diratakan dengan tanah.

3. Daun galam digunakan sebagai bahan baku pembuatan obat-obatan. Minyak kayu putih disebut juga sebagai cajaput oil

4. Buah galam yang telah dikeringkan, dimanfaatkan sebagai pengganti lada hitam.

MANFAAT EKOLOGIS

Galam termasuk jenis tumbuhan yang tahan terhadap kebakaran dan kekeringan. Ini disebabkan ekologis galam yaitu fire-climax, dimana daerah bekas kebakaran menyebabkan biji galam akan tumbuh dengan cepat dan lama kelamaan akan mendominasi daerah tersebut.

Galam juga memiliki toleransi yang tinggi terhadap kebakaran. ini disebabkan adanya kulit yang tebal, sehingga mampu menahan panas yang berlebihan dan mampu melindungi kambium dari kerusakan.

Galam tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi, terutama kesuburan tanah. Daya tumbuh dan toleransi yang tinggi mampu tumbuh pada tanah yang kurang subur.

Daun muda (pucuk) merupakan sumber makanan bagi bekantan (Nasalis larvatus).

 

SEBARAN

Galam (Melaleuca spp) tersebar di Asia Tenggra dari Semenanjung Malaka hingga ke Kepulauan Maluku (terdapat di Fhilipia). Khusus di Kalimantan Selatan menyebar secara alami di lahan rawa gambut dan pasang surut (rawa air tawar). Juga ditemukan di lahan yang relatif kering (bekas hutan kerangas) seperti di Sebuhur, Liang Anggang. Sedangkan keberadaan hutan galam di wilayah Kelurahan Landasan Ulin (PemKo Banjarbaru) akibat adanya intervenasi air daerah Liang Anggang Kec. Bati-bati (Kab. Tanah Laut).

 

Planchonia valida

Deskripsi

Jenis ini berupa pohon yang dapat mencapai tinggi 50 m, diameter 200 cm, dengan batang yang tegak, lurus, dan berbanir. Tajuknya bulat, lebat, hijau tua dan mengkilat, yang pada musim kering daunnya gugur dan sebelum gugur daun merah. Kulit batangnya coklat keabu-abuan sampai coklat tua, mengelupas dalam bentuk kepingan-kepingan kecil. Pepagan tebal, merah daging di bagian luar dan putih di tepi bergerigi. Perbungaan berbentuk tandan. Bunganya mempunyai benang sari banyak yang merah jambu pada bagian bawah dan putih pada bagian atas. Buahnya berbentuk bulat telur atau lonjong.

Habitat dan Penyebaran

Putat merupakan jenis yang banyak terdapat di hutan primer tanah rendah, pada tanah dengan drainase baik, meskipun kadang-kadang tumbuh pula di tanah kapur. Jenis ini ditanam sebagai pengganti jati di tempat-tempat yang terlalu basah untuk jati. Di alam jenis ini berbunga sepanjang tahun, tetapi masa berbuah yang baik adalah pada tahun September Desember, terutama bulan Oktober.

 Kualitas Kayu

Kayu putat mempunyai B.J 0.8, dengan kelas keawetan II-III dan kelas kekuatan I-II. Kayunya mudah dikerjakan, tetapi melengkung kalau pengeringannya kurang hati-hati, banyak digunakan untuk perumahan, konstruksi berat, tiang, perabot rumah tangga, kapal, lantai, panel, pelapis dan sumbu kendaraan. Tumbuhan ini dapat pula dipakai sebagai bahan racun ikan. Daun mudanya dapat dimakan sebagai lalap. Sampai saat ini putat belum pernah dicoba dibudidayakan meskipun potensi pemanfaatannya cukup besar. Di Jakarta, nama pohon ini menjadi toponim, Ciputat yang terdapat di daerah Jakarta Selatan.

 Pemanfaatan

Putat dari jenis Planchonia valida hampir ada di seluruh Indonesia, merupakan tumbuhan yang bermanfaat baik dari segi farmakologis, fitokimia dan ekonomis. dari segi farmakologis di daerah Kalimantan Selatan khusunya di daerah Loksado digunakan sebagai bahan antifertilitas, obat kulit dan sakit perut.

Crinum asiaticum

CIRI-CIRI

BATANG Tanaman bunga bakung merupakan  tumbuhan tahunan yang mempunyai tinggi 60–180 cm. Tanaman bunga bakung memiliki tangkai yang kuat dan kokoh.

DAUN yang sangat panjang dan berwarna hijau.

Karakteristik bunga bakung ini mempunyai warna yang indah di setiap kelopaknya. Bunga tanaman bakung ini besar memiliki tiga kelopak, yang mempunyai harum wangi, dan bunga bakung ini memiliki berbagai warna dari putih, kuning, jingga, merah muda, merah, ungu, warna tembaga, hingga hampir hitam dan lain-lain. Terdapat pula corak bunga bakung yang berupa bintik-bintik. Bunganya  putih berbentuk corong dengan biji besar bundar gepeng dan berlendir. Mahkota bunga lancip sedang bagian dalamnya merah keunguan.

BUAH / UMBI Tanaman ini mempunyai umbi yang besar tumbuh ditanah berdiameter 5-10 cm, umbi ini dikenal dengan poison bulb karena  mengandung racun.

DESKRIPSI

Tanaman bakung dalam bahasa Inggris adalah lily. Nama ilmiah  atau latin bunga bakung adalah Crynum asiaticum  L. Ada sekitar 110 suku dalam  keluarga bakung (Liliaceae), Tanaman bunga Bakung termasuk dari keluarga Amaryllidaceae. Tanaman Bakung adalah tumbuhan tahunan dengan  tinggi 60–180 cm. Bakung biasanya memiliki tangkai yang kokoh. Kebanyakan suku bakung membentuk umbi polos di bawah tanah. Di beberapa suku Amerika Utara, dasar dari umbi ini berkembang menjadi rizoma. Beberapa mampu hidup di rawa. Pada umumnya tanaman ini lebih cocok tinggal di habitat dengan tanah yang mengandung kadar asam seimbang. Kawasan tumbuh bakung meliputi sebagian besar Eropa, dan Asia. Tanaman ini bisa menyesuaikan diri dengan habitat hutan, seringkali pegunungan, dan kadang-kadang habitat rerumputan. Tanaman bunga bakung berkembangbiak dengan cara pemisahan umbi pada tanaman induk.

KANDUNGAN ZAT

Bakung putih mempunyai sifat tajam dan dingin, agak sedkit pedas juga sedikit beracun. Berkhasiat untuk merangsang muntah, antiswelling (Menghilangkan bengkak), analgesik (penghilang sakit), antelmintik (obat cacing), diaforetik (merangsang keringat), antidotum (penetral racun). Sedangkan umbi pada bakung putih mengandung alkoloid berupa likorin, inulin, krinin aseti kronin, dan methylan thanilate.

KHASIAT DAN MANFAAT

Fungsi  tanaman bunga bakung ini tidak hanya digunakan untuk tanaman hias saja namun kegunaan tanaman bunga bakung bisa juga digunakan sebagai tanaman obat herbal, Hampir semua Bagian bakung putih dapat dijadikan tamuan untuk terapi pengobatan, dapat disajikan secara segar maupun kering, berikut ini adalah beberapa ramuan obat menggunakan  tanaman bakung.

·   Mengobati Luka Memar Cara meramu :Ambil daun bunga bakung lalu olesi dengan minyak kelapa, kemudian layukan di atas api selanjutnya di tempel kan kebagian yang sakit.

·    Melancarkan Buang Air Kecil Cara meramu :Daun bunga bakung di olesi dengan minyak kelapa, kemudian di tempelkan pada daerah kandung kencing.

·   Sakit Gigi Cara meramu :Sediakan akar bakung putih seperlunya lalu tempelkan pada gigi yang terasa sakit. Bisa juga dengan merebus akar bakung putih, setelah dingin dipakai untuk berkumur.

·  

Melastoma sp.

 


Deskripsi:Perdu, tinggi sekitar 0,5 � 4 m, cabangnya banyak.
Daun:Tebal, kaku, warnyanya hijau hingga hijau kekuningan. Urat daun menyirip rapat secara lateral, pada permukaan daun terdapat tiga tulang daun yang jelas dan memanjang lurus seperti garis (longitudinal) kearah ujung daun. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Bentuk: bulat memanjang hingga lanset. Ujung: meruncing lancip. Ukuran: 2-20 x 0,75-8,5 cm.
Bunga:Warna ungu kemerahan, tandan dan gagang bunga berwarna hijau kecoklatan. Letak: di ujung cabang. Formasi: berkelompok, setiap kelompok ada 2-3 bunga. Daun mahkota: jumlahnya 4-18, membuka penuh secara horizontal, diameter saat membuka penuh 4,5-6,5 cm. Kelopak bunga: berbentuk tabung dengan bentuk cuping bergerigi 5. Tangkai putik: warnanya kuning keputihan, panjangnya 8-17 mm.
Buah:Berbentuk kapsul bulat, jika sudah matang akan merekah dan terbagi-bagi ke dalam beberapa segmen (bagian), warna ungu tua kemerahan. Biji kecil sekali berupa bintik-bintik berwarna coklat. Ukuran: diameter buah 8-10 mm.
Ekologi:Tumbuh liar mulai permukaan laut hingga 1650 m, yaitu pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup, mulai dari pantai yang berlumpur, lapangan terbuka, lahan terlantar, pinggir jalan hingga lereng gunung. Biasanya muncul bersama tanaman semak lainnya.
Penyebaran:Di seluruh Indonesia.
Kelimpahan:
Manfaat:Buahnya enak dimakan, daunnya yang masih muda sebagai sayur/lalab. Akar, daun dan seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat gangguan pencernaan, diare, disentri basiler, hepatitis, sariawan, keputihan, mimisan, wasir berdarah, pembekuan dalam pembuluh darah, keracunan oleh singkong, bisul dan memperlancar air susu ibu.
Catatan:

Cerbera manghas

 
Deskripsi:Pohon atau belukar dengan ketinggian mencapai 20 m. Kulit kayu bercelah, berwarna abu-abu hingga cokelat, memiliki lentisel dan cairan putih susu. Akar menjalar di permukaan tanah, tetapi kurang memiliki akar udara dan akar nafas.
Daun:Agak gelap, hijau mengkilap di bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan. Bentuk: bulat memanjang atau lanset, seperti daun mangga. Ujung: meruncing. Ukuran: 10-28 x 2-8 cm.
Bunga:Biasanya terdapat 20 �30 bunga pada setiap tandan. Letak: di ujung cabang. Formasi: berkelompok secara tidak beraturan. Daun mahkota: 5, putih bersih dengan bagian pusat berwarna jingga hingga merah muda-merah. Kelopak bunga: 5, putih kehijauan, jaraknya agak jauh dari daun mahkota. Benang sari: tidak bergagang, menempel pada mulut tabung. Perpanjangan dari masing-masing benang sari yang berambut dan berbentuk seperti taji menutupi kerongkongan tabung mahkota bunga.
Buah:Berbentuk bulat, hijau hingga hijau kemerahan, mengkilat dan berdaging. Selintas bentuknya menyerupai buah mangga. Ukuran: diameter buah 6-8 cm.
Ekologi:Tumbuh di hutan rawa pesisir atau di pantai hingga jauh ke darat (400 m d.p.l), menyukai tanah pasir yang memiliki sistem pengeringan yang baik, terbuka terhadap udara dari laut serta tempat yang tidak teratur tergenang oleh pasang surut. Biasanya tumbuh di bagian tepi daratan dari mangrove.
Penyebaran:Kemungkinan di seluruh Indonesia. Tercatat di Bali, Jawa, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Maluku, Timor dan Irian Jaya. Tersebar di PNG, Kepulauan Bismarck dan seluruh Kepulauan Solomon.
Kelimpahan:
Manfaat:

Minyak yang diperas dari biji dan buah mudanya dapat digunakan untuk mengatasi gatal-gatal, reumatik, serta pilek. Minyak biji dapat digunakan untuk meracuni ikan (di Burma juga digunakan sebagai insektisida). Kulit kayu dan daun digunakan sebagai obat pencahar. Kayu digunakan sebagai kayu bakar dan bahan arang. Belakangan ini banyak dipakai sebagai tanaman hias/peneduh di dalam kompleks perumahan.
Catatan:Berpotensi sebagai obat farmakologi karena pengaruh kardiovaskular-nya.

Ficus microcarpa

 BERINGIN (Ficus microcarpa)

Ficus microcarpa , juga dikenal sebagai beringin Cina , beringin Melayu , laurel India , ara tirai , atau gajumaru (   ) , adalah sebuah pohon dalam keluarga ara Moraceae . Ini asli dalam kisaran dari Cina melalui Asia tropis dan Kepulauan Caroline ke Australia. Pohon ini banyak ditanam sebagai pohon pelindung dan sering salah diidentifikasi sebagai F. retusa atau sebagai F. nitida ( F. benjamina ).

Taksonomi

Ficus microcarpa diuraikan pada 1782 oleh Carl Linnaeus the Younger . Spesies ini memiliki banyak sinonim. Pada tahun 1965, EJH Corner menggambarkan tujuh varietas (dan dua bentuk Ficus microcarpa var. Microcarpa yang dianggap sinonim dengan nama Ficus microcarpa dalam versi terbaru mana?  Volume Flora Malesiana .

Pohon menangis Hill pertama kali secara resmi dideskripsikan sebagai suatu spesies, Ficus hillii , oleh Frederick Manson Bailey dalam Buletin Botani Departemen Pertanian Queensland , berdasarkan pada spesimen jenis yang dikumpulkan dalam "scrub tropis Queensland '".  Pada tahun 1965, ia dipindahkan oleh E.J .H. Pojok sebagai variasi F. microcarpa , yaitu F. microcarpa var. hillii .

Deskripsi

Ficus microcarpa adalah pohon tropis dengan kulit abu-abu muda yang halus dan seluruh daun lenyap sekitar 2-2,5 inci (5-6 cm) yang panjangnya di iklim Mediterania tumbuh setinggi sekitar empat puluh kaki (dua belas meter) dan dengan penyebaran mahkota yang sama. Jika kondisinya menguntungkan bagi kebiasaan beringin ( subtropis tropis dan lembab), ia tumbuh jauh lebih besar, menghasilkan banyak sekali akar penyangga.

Distribusi dan habitat

Ini asli ke Sri Lanka , India , Cina selatan , Insulinde , Kepulauan Ryukyu , Australia dan Kaledonia Baru . Spesies tropis dan subtropis, pohon ini membutuhkan iklim hangat dan suasana lembab. Namun demikian dapat menahan suhu mendekati 0 ° C. Spesies ini terjadi terutama pada ketinggian rendah, dan habitat aslinya termasuk hutan hujan tropis, tepi sungai, pantai, rawa dan hutan bakau.

Rentang Pengenalan

Ficus microcarpa didistribusikan secara luas sebagai tanaman hias dan merupakan salah satu pohon jalanan paling umum di daerah beriklim hangat. Di luar kisaran aslinya, spesies ini telah diperkenalkan ke Afrika Utara, Irak, Pakistan, Jepang dan Hawaii. Di Amerika, ia diperkenalkan di Florida dan Amerika Tengah dan Selatan, di mana ia umumnya tumbuh sebagai spesies hias.

Di daerah perkotaan, pohon dapat tumbuh di celah, dinding, bangunan, dan elemen batu lainnya. Tampaknya lebih bahwa spesies itu menunjukkan toleransi yang baik terhadap kelembaban tanah di beberapa polutan perkotaan, termasuk sulfur dioksida , timbal dan kadmium , serta garam .

Ekologi

Tawon ara penyerbuk yang terkait dengan Ficus microcarpa adalah Eupristina verticillata . Selain itu, 19 spesies tawon non-penyerbukan mem parasit Ficus microcarpa .  Tawon ara ini berasal dari keluarga yang berbeda, termasuk keluarga Eurytomidae dan Pteromalidae .

Di beberapa bagian dari jajaran yang diperkenalkan, sangat menarik bagi satwa liar unggas: di São Paulo , Brasil, sepuluh spesies burung terdaftar sebagai makanan buah-buahannya, terutama Turdus rufiventris , Pitangus sulphuratus , Turdus leucomelas , Thraupis sayaca dan Celeus flavescens .  Buah dan daunnya juga dicari dan dimakan oleh burung beo Aratinga leucophthalmus .  Meskipun invasif, sifat tahan bantingnya menjadikannya spesies penting bagi daya tarik margasatwa burung di lingkungan perkotaan. 

Kultivasi

Ficus microcarpa dibudidayakan sebagai pohon hias untuk ditanam di kebun, taman, dan dalam wadah sebagai spesimen tanaman dan bonsai dalam ruangan . Di Asia Tenggara, ia dibudidayakan sebagai pohon rindang karena dedaunannya yang lebat. Kemampuannya menghasilkan discards juga membuatnya mudah dikendarai di lindung nilai atau semak.

Sebagai pohon tropis dan subtropis, pohon ini cocok untuk suhu di atas 20 ° C sepanjang tahun, yang menjelaskan mengapa umumnya dijual sebagai tanaman hias. Namun, ia dapat menahan suhu yang relatif rendah, hanya mengalami kerusakan di bawah 0 ° C. Kelembaban tinggi (70% - 100%) lebih disukai dan tampaknya mendukung pengembangan akar udara. Spesies ini dapat diperbanyak dengan mudah dengan stek , baik di air atau langsung di substrat pasir atau tanah pot.

Ficus Emerald Green adalah kultivar Australia dengan dedaunan hijau mengkilap dan tumbuh tegak yang dapat digunakan dalam pengaturan taman formal sebagai pagar tanaman . Kultivar juga dapat dilatih agar terlihat mirip dengan ' lollipop ' dalam sebuah wadah.

Obat

Tanaman ini juga digunakan dalam pengobatan tradisional di India, Malaysia, Cina dan Jepang. Di Jepang, kulit kayu, akar udara dan daun kering secara tradisional digunakan untuk melawan rasa sakit dan demam , sementara di Cina tanaman ini secara tradisional digunakan antara lain melawan flu , malaria , bronkitis dan rematik . Sifat farmakologis dari Ficus microcarpa akan mencakup aktivitas antioksidan , antibakteri , antikanker dan agen anti diabetes.

Gluta renghas

Jingah adalah nama umum bagi pohon-pohon anggota marga Gluta, suku Anacardiaceae. Jingah juga acap digunakan secara spesifik untuk menyebut pohon Jingah tembaga (Gluta renghas L.) yang tersebar luas. Kebanyakan jenis pohon ini menghasilkan kayu yang berkualitas baik dan indah berwarna merah.

Daun-daun tersusun dalam spiral, acapkali mengelompok membentuk karangan semu; daun tunggal bertepi rata, seperti jangat, bertangkai (jarang hampir duduk), tanpa daun penumpu. Bunga-bunga tersusun dalam malai di ketiak; masing-masing berkelamin ganda; kelopak laksana cawan, lekas rontok; mahkota (4–)5(–8), gugur atau menetap dan membesar bersama buah; benang sari (4–)5(–7), 10, atau banyak. Buah berupa buah batu beruang satu; bertangkai atau didukung perbesaran mahkota serupa sayap.

KEGUNAAN

Banyak jenis Jingah yang menghasilkan kayu yang indah, kemerahan bergaris-garis, yang dimanfaatkan secara luas untuk furnitur, panel-panel dekorasi, lantai, kayu lapis, serta kerajinan. Dalam ukuran yang besar, kayu Jingah dimanfaatkan sebagai tiang dan balok rumah, jembatan, bantalan rel kereta api, lunas perahu, moulding, dan lain-lain. Hanya saja, kandungan getahnya yang berbahaya membatasi kegunaan praktisnya. Kayu Jingah juga diproses menjadi arang. Resin getahnya dimanfaatkan dalam industri pernis. Biji dari beberapa jenis Jingah bisa dimakan setelah dipanggang. Dan salah satu jenis Jingah diketahui menghasilkan bahan pewarna.

SIFAT-SIFAT KAYU

Jingah menghasilkan kayu dengan bobot sedang; kerapatannya berkisar antara (560–)590–870(–960) kg/m³ pada kadar air 15%. Kayu terasnya berwarna merah atau merah darah, yang berangsur-angsur berubah menjadi merah gelap atau cokelat kemerahan gelap setelah terkena matahari; jelas berbeda dari gubalnya yang lebar, keabu-abuan, kekuningan, atau cokelat-merah jambu.

Serat kayunya berpadu, dengan tekstur halus sedang hingga kasar sedang. Penyusutan kayunya termasuk rendah hingga sedang: dari keadaan segar hingga kadar air 15% sebesar 1,0% dan 1,8%; dan hingga kering tanur sebesar 2,3% dan 4,3% di arah radial dan tangensial berturut-turut. Keawetan kayu Jingah tergolong kurang hingga sedang; namun kayu ini termasuk mudah diawetkan

 

Ludwigia hyssopifolia

Nama lokal: Sumatera: Meligai (Bangka); Jawa: djukut anggereman, mainang, cacabean (Sunda); Sulawesi: kayu ragi (Manado); Filipina: pasau-...