Sabtu, 12 Agustus 2023

Ludwigia hyssopifolia

Nama lokal:

Sumatera: Meligai (Bangka); Jawa: djukut anggereman, mainang, cacabean (Sunda); Sulawesi: kayu ragi (Manado); Filipina: pasau-na-hapai, sila-sila (Tagalog).

Deskripsi:

Herba setahun tinggi berkisar 5 cm sampai 3 m, seringkali menjadi berkayu di bagian dasarnya; pucuk muda dan perbungannya berambut halus (puberulent) kecil; aerofor panjang muncul dari akar yang terendam air.

Daun bentuknya lanset, ukuran 1–9 × 0.2–3 cm, runcing sempit pada bagian dasarnya, ujung atasnya meruncing; pertulangan 11–17 pasang; pertulangan tepi (submarginal) tidak terlihat jelas; tangkai daun panjang 2.5–18 mm.

Kelopak berjumlah 4, lanset, ukuran 2–4 × 0.7–1.2 mm, berambut kecil (puberulent) halus, bertulang menjari 3. Mahkota berwarna kuning, orange-kuning buram, bentuk ellips, ukuran 2–3 × 1–2 mm. Benang sari berjumlah 8, kuning-kehijauan pucat, benang sari yang menempel di mahkota (epipetalous) lebih kecil; filamen dari benang sari yang menempel di kelopak (episepalous) panjang 1–2 mm, yang menempel di mahkota (epipetalous) panjang 0.5–1 mm; kepala sari lebarnya 0.4–0.6 mm, tinggi 0.2–0.3 mm, menggugurkan serbuk sarinya langsung ke kepala putik saat anthesis. Butir serbuk sari jatuh berupa tunggal. Disk ± terangkat, dengan nektar bersilia yang rebah mengelilingi dasar dari masing-masing benang sari yang menempel di mahkota (epipetalous). Tangkai putik berwarna kuning-kehijauan pucat, panjang 1–1.5 mm; kepala putik bulat-tertekan, diameter sekitar 0.6–1.2 mm, tinggi 0.5–0.8 mm, terbagi 4 tipis, bagian paling teratas reseptif.

Buah kapsul relatif berdinding tipis, berambut kecil (puberulent) halus, ukuran 1.5–3 cm × 1–1.2 mm, agak silindris, membesar pada 1/6 sampai 1/3 bagian teratas, bertangkai sangat pendek (subsessile).

Biji bagian yang terbawah satu baris pada masing-masing ruang kapsul, hampir vertikal, warna coklat, bentuk oblong, panjang 0.7–0.85 mm, masing-masing tertanam pada endokarp berbentuk kubus yang relatif kuat; alur sisi biji (raphe) berukuran 1/3 diameter tubuh biji. Biji pada bagian teratas kapsul yang menggembung tersusun dalam banyak baris, bebas, bentuk ovoid, panjang 0.35–0.5 mm, warna coklat lebih pucat dibandingkan biji bagian terbawah dan dengan alur sisi biji (raphe) yang lebih sempit. Bagian terbawah kapsul pada awalnya ditandai oleh benturan jelas berhubungan terhadap posisi dari biji yang sebaris, tetapi ketika endokarp mengeras dan membengkak, kapsul menjadi halus.

Distribusi dan Ekologi:

Tropika Afrika (Dakar sampai Danau Chad, Sudan Selatan, dan Kongo Selatan), daratan Asia Tenggara (Sri Lanka sampai Hainan), seluruh kawasan Malesia sampai Micronesia dan Australia Utara (Semenanjung Cape York dan daratan Arnhem). Susah untuk menentukan asal negara mana dari tumbuhan ini karena sekarang sudah tersebar luas menjadi gulma tropis yang tidak mempunyai kerabat dekat. Tumbuhan ini mungkin telah terintroduksi di wilayah tropika Afrika dimana relatif lokal dan terbatas di wilayah barat, tetapi dikoleksi juga di Sao Tome pada awal 1822.

Ekologi: gulma yang sangat umum dijumpai di sekitaran kolam, sepanjang aliran air, selokan sempit, tepi badan sungai, di sawah dan kebun yang basah, pada lahan kosong, sawah yang dibiarkan, lahan kosong tanah liat dan pasir putih yang berair (Borneo), pada kolam savana Ekaliptus (Pulau Wetar), dan Gunung Kelud (Jawa Tengah) sebagai tumbuhan pionir pada aliran lahar dingin, dari dataran rendah mencapai ketinggian 1000 m dpl. Berbunga sepanjang tahun.

 Manfaat:

Di Semenanjung Malaya, ekstrak akarnya diminum untuk obat sifilis, di Sulawesi (Indonesia), ekstrak akar tersebut digunakan sebagai obat tapel jerawat, bisul, dan infeksi lainnya. Di Indo-China, tumbuhan ini digunakan sebagai obat diare dan disentri, radang usus, dan seriawan (sprue).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ludwigia hyssopifolia

Nama lokal: Sumatera: Meligai (Bangka); Jawa: djukut anggereman, mainang, cacabean (Sunda); Sulawesi: kayu ragi (Manado); Filipina: pasau-...