NAMA BOTANIS
Galam merupakan genus Melaleuca
dari famili Myrtaceae. Pada awalnya nama botanis galam (lahan rawa gambut atau
pasang surut) adalah Melaleuca leucadendran Linn. samadengan nama
galam kayu putih (Tim Teknisi Eksploitasi Hutan, 2000). Sacara morfologis
adalah sama, tapi untuk kandungan minyaknya berbeda. Galam kayu putih lebih
banyak mengandung “minyak kayu putih” dibanding galam lahan rawa. Sehingga
penamaan botanis untuk galam lahan rawa (gambut atau pasang surut) adalah Melaleuca
cajuputi.
Masyarakat di desa Antar Raya
(Kab. Barito Kuala, Prop. Kalimantan Selatan) membedakan jenis galam ke dalam 2
varitas, yaitu galam tembaga dan galam putih. Galam tembaga memiliki kulit
lebih tipis dan lebih licin dari kulit galam putih. Galam tembaga biasanya
tumbuh di tepi-tepi sungai dan galam putih tumbuh agak lebih ke dalam.
SIFAT BOTANIS
Sifat fisik pohon galam tidak
berbanir. Bentuk batang bulat panjang, agak lurus dan tinggi dapat mencapai 15
meter atau lebih. Tinggi bebas cabang dapat mencapai ±60%. Batang terbungkus
dengan kulit oleh kulit-kulit tipis yang berlapis-lapis sehingga membentuk
kulit yang tebal, berwarna kekuning-kuningan dan amat mudah lepas. Bila lapisan
kulit tebal terserbut kering akan bersifat seperti gabus, sehingga tidak mudah
menyerap air. Kayunya keras, berat jenis 0,85, kelas awet III dan kelas kuat
II.
PERTUMBUHAN
Hutan galam merupakan hutan khas
daerah hutan rawa gambut dengan kemasaman tanah yang cukup tinggi. Umumnya
hutan galam merupakan hutan homogen. Namun ada pula yang tumbuh di hutan air
tawar. Disamping pohon galam merupakan pohon toleran terhadap kondisi tanah
asam dan tergenang.
Pertumbuhan galam yang berasal
dari :
1) biji (generatif) umumnya
relatif lurus dan mempunyai bentuk percabangan monopodial. Sehingga batangnya
banyak digunakan untuk bahan/kayu bangunan.
2) trubusan mempunyai bentuk batang cenderung bengkok dengan bentuk percabangan
sympodial. Sehingga pemanfaatan batang untuk kayu bakar. Kecuali bila diameter
batang > 20 cm dengan panjang batang bebas cabang > 4 meter dijadikan
kayu pertukangan.
Klasifikasi tingkat pertumbuhan jenis galam lahan rawa
gambut (Melaleuca cajuputi Roxb) adalah :
1)
Tingkat semai dengan diameter 2 cm – 10 cm
2)
Tingkat tiang dengan diameter > 10 cm – 20 cm
3)
Tingkat pohon dengan diameter > 20 cm
Pohon galam bermanfaat serba guna
sejak dari buah, daun, kayu hingga kulitnya. Namun yang banyak dimanfaatkan
selama ini adalah berupa kayu batang dan kayu bakar. Secara garis besar
pemanfaatannya dirangkum menjadi pemanfaatan bersifat ekonomi dan ekologis.
Kayu
galam dimanfaatkan antara lain :
1. kayu galam sangat berperan dalam
pembangunan rumah dan gedung bertingkat yaitu sebagai pondasi cerucuk dan
penyangga waktu pengecoran beton. Juga sebagai bahan baku penunjang.
2. Kulit kayu tidak banyak dimanfaatkan.
Bila tak ada pembeli atau tidak digunakan sendiri biasanya hanya dibakar begitu
saja. Kulit yang dibeli atau untuk keperluan sendiri digunakan sebagai
“himbukan”; yaitu menutup lubang dengan kulit kayu galam dan setelah cukup
padat, kemudian ditutup dengan tanah. Biasanya setelah 3 bulan akan terjadi
penurunan dan selanjutnya akan diisi/diratakan dengan tanah.
3. Daun galam digunakan sebagai bahan
baku pembuatan obat-obatan. Minyak kayu putih disebut juga sebagai cajaput oil
4. Buah galam yang telah dikeringkan,
dimanfaatkan sebagai pengganti lada hitam.
MANFAAT EKOLOGIS
Galam termasuk jenis tumbuhan yang tahan terhadap kebakaran
dan kekeringan. Ini disebabkan ekologis galam yaitu fire-climax, dimana daerah
bekas kebakaran menyebabkan biji galam akan tumbuh dengan cepat dan lama
kelamaan akan mendominasi daerah tersebut.
Galam juga memiliki toleransi yang tinggi terhadap
kebakaran. ini disebabkan adanya kulit yang tebal, sehingga mampu menahan panas
yang berlebihan dan mampu melindungi kambium dari kerusakan.
Galam tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi,
terutama kesuburan tanah. Daya tumbuh dan toleransi yang tinggi mampu tumbuh
pada tanah yang kurang subur.
Daun muda (pucuk) merupakan sumber makanan bagi bekantan (Nasalis
larvatus).
SEBARAN
Galam (Melaleuca spp) tersebar di Asia
Tenggra dari Semenanjung Malaka hingga ke Kepulauan Maluku (terdapat di
Fhilipia). Khusus di Kalimantan Selatan menyebar secara alami di lahan rawa
gambut dan pasang surut (rawa air tawar). Juga ditemukan di lahan yang relatif
kering (bekas hutan kerangas) seperti di Sebuhur, Liang Anggang. Sedangkan
keberadaan hutan galam di wilayah Kelurahan Landasan Ulin (PemKo Banjarbaru)
akibat adanya intervenasi air daerah Liang Anggang Kec. Bati-bati (Kab. Tanah
Laut).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar